Sebanyak 30 perancang lokal dan internasional terlibat dan menerapkan konsep fesyen terbarukan. Merdi menjelaskan, para desainer menerapkan daur ulang atau bahan organik dan alami untuk meminimalisasi jejak karbon. "Kami mengusung fesyen berkesinambungan yang mengurangi dampak perusakan lingkungan," kata dia di Jakarta, Jumat (30/11).

 

EFWI diharapkan menjadi referensi fesyen masyarakat Indonesia lewat karya ethical yang dibuat langsung masyarakat di daerah tertinggal. Salah satunya tenun ikat Alor dan tenun ikat Rote Ndao. "Pada penyelenggaraan perdana ini kami menggelar lokakarya pewarnaan alami tenun ikat Alor," tuturnya.

 

Dia menjelaskan, pameran menjadi rujukan industri tekstil karena masih banyak yang tidak menjalankan praktik ramah lingkungan. Dia mengungkapkan, lebih dari 200 manufaktur pakaian internasional di Indonesia mengeksploitasi sumber air. limbah pabrik yang buruk pun berdampak pada lingkungan, terutama pencemaran air.

 

Merdi juga berharap EFWI menjadi batu loncatan dari perjalanan panjang yang perlu dilakukan Indonesia dalam menerapkan konsep slow fashion. Tak sekadar ramah lingkungan, konsep itu berusaha melestarikan warisan budaya pembuatan tekstil alami khas Nusantara. "EFWI bersemangat melancarkan gerakan yang dapat membuat perubahan besar di Indonesia," ungkapnya.

 

Marketing Manajer perusahaan yang mengimpor bahan serat tencel Mariam Tania menjelaskan, serat tencel yang dihadirkan telah bersertifikat. Bahkan, dalam produksinya diawasi, sehingga dipastikan tidak mengganggu lingkungan. "Kami menggandeng 15 perancang muda dan mengedukasi fesyen ramah lingkungan," kata dia di Jakarta, Jumat (30/11).